Tuesday, December 14, 2010
Sunday, December 12, 2010
Saturday, December 11, 2010
Falsafah Menangis atas Imam Husain
oleh Ismail Amin
Karbala, nama hamparan sahara dekat sungai Eufrat yang menjadi panggung drama nyata tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Sebuah padang pasir yang di beritakan dalam Al-Kitab, bahwa di tempat ini terjadi penyembelihan yang teramat dahsyat, yang digambarkan pedang akan makan sampai kenyang dan akan puas minum darah mereka (Yeremia 46:1). Dari sekian tragedi kemanusiaan yang terjadi, tragedi di Karbalalah yang terbesar. Bukan dilihat dari jumlah korban, melainkan siapa yang telah menjadi korban dan bergelimang darah. Jumlah mereka tidak seberapa, 'hanya' kurang lebih 72 orang. Yang menjadikan peristiwa ini sulit untuk terlupakan adalah Karbala menjadi samudera pasir yang menyuguhkan genangan darah dan air mata suci putera-puteri Rasul. 10 Muharram 61 Hijriah, Imam Husain bersama 72 pengikutnya — termasuk di dalamnya anak-anak — syahid dibantai oleh sekitar 30.000 tentara Yazid bin Muawiyyah di padang Karbala , Irak. Kepala Imam dan para syuhada dipenggal dan diarak keliling kota.
Peristiwa ini merupakan tragedi terbesar sepanjang sejarah Islam. Bisa jadi ada yang mempersoalkan mengapa kisah tentang tragedi ini harus selalu dikenang, harus selalu diingat dan ditangisi. Bukankah peristiwa ini hanya akan menyulut benih-benih perpecahan antara kaum muslimin, antara kelompok yang pro dengan kebangkitan dan kesyahidan Imam Husain ra dan dengan kelompok yang kontra dan menganggap Imam Husain ra adalah agitor dan pemberontak terhadap penguasa yang sah ?. Masihkah relevan kita memperbincangkan tentang kesyahidan Imam Husain di padang Karbala di abad yang justru orang-orang membincangkan perdebatan antar budaya dan peradaban melalui dunia maya? Apa faedah kita mengungkit-ngungkit tragedi yang telah menjadi masa lalu ini, dan buat apa kita menangisinya ?. Bukankah semestinya kita duduk bersama berbicara tentang perdamaian dunia untuk kehidupan yang lebih baik ?
Saya pribadi, menganggap hal ini sangat penting untuk kita perbincangkan. Terlepas dari tragedi Karbala, di Indonesia, atas nama suku, agama, ras dan golongan, nyawa manusia tidak lebih mahal dari sebungkus rokok. Aceh, Ambon , Sambas, Sampit, Poso, Papua adalah sedikit saksi atas kebiadaban segelintir manusia atas manusia lainnya. Tidak sulit kita menemukan orang-orang bergelimpangan meregang nyawa, baik karena dibunuh ataupun menghabisi nyawa sendiri. Lalu, di manakah kemanusiaan kita? Tersentuhkah kita dengan derita-derita mereka? Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah pernah berkata, “Mereka yang tidak pernah tersentuh dengan tragedi Karbala , tidak akan pernah tersentuh dengan tragedi kemanusiaan yang lain.” Tragedi Karbala menjadi ukuran. Kepedulian kita atas tragedi kemanusiaan, khususnya di bumi Nusantara ini akan terukur dari kepedulian kita pada Karbala. Imam Khomeini pernah berkata, “Sungguh kesyahidan Husain senantiasa membakar hati orang-orang yang beriman.” Dari sini, saya melihat tragedi Karbala sangat relevan untuk kita kenang.
Hakekat Tangisan
Pertama-tama, kami tegaskan bahwa masalah memperingati tragedi Karbala (10 Muharram) bukanlah masalah khas Syi'ah saja, tetapi masalah islami. Meskipun muslim yang bermadhzab Syi'ah lebih memberikan prioritas terhadap peristiwa ini dibanding kelompok muslim lainnya. Sebab, Imam Husain ra tokoh utama dibalik tragedi ini, bukanlah pelita bagi kaum Syi'ah saja, melainkan lentera hati setiap mukmin, apapun madhzabnya. Karenanya, kami tegaskan lagi, apapun yang berkaitan dengan peristiwa karbala pada hakikatnya adalah fenomena islami. Yang akan saya ketengahkan adalah, tangisan dan perilakunya terhadap manusia. Telah sering diajukan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar tangisan yang biasa dilakukan orang-orang Syi'ah saat mengenang peristiwa Karbala. Peringatan akan tragedi Karbala dengan tangisan dan ratapan yang mereka lakukan bagi sebagian muslim yang lain adalah bid'ah bahkan cenderung kepada kesyirikan. Manusia manapun pasti mengalami kegetiran hidup yang membuatnya harus menangis. Bahkan lembaran kehidupan manusia diawali dengan tangisan dan diakhiri pula dengan tangisan perpisahan. Tangisan sesuatu yang alamiah, sesuatu yang telah menjadi fitrah kemanusiaan. Menurut Syaikh Taqi Misbah Yazdi, menangis disebabkan empat tingkatan spiritual : keridhaan (ar-rida'), kebenaran (ash-shidiq), petunjuk (al-hidayah) dan pemilihan (al-isthifa'). Dan para nabi telah mencapai empat tingkatan spiritual yang tinggi ini. "Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur'an al-Karim dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (Qs. Al-Isra' : 107-109). Melalui ayat ini, disimpulkan bahwa ilmu dan makrifat adalah penyebab timbulnya tangisan. Setiap orang yang mengetahui hakikat sesuatu, mengetahui hakikat kenabian Rasulullah SAW dan mengetahui hakikat kesyahidan Imam Husain ra, maka hatinya sangat peka dan matanya muda mengucurkan air mata. Rasul bersabda, "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. " Di ayat lain Allah SWT berfirman, "Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (Qs. Al-Maidah : 83).
Mengapa Menangis atas Imam Husain ?
Seseorang yang menjadikan Imam Husain sebagai kekasihnya dan mendengar sang kekasih mengalami musibah dan bencana, apa layak hanya menanggapinya dengan dingin dan tidak menangis ?. Imam Husain adalah adalah kekasih bagi setiap muslim, beliau gugur dalam keadaan kehausan dan tidak cukup dibantai, tapi kepala beliau dipisahkan dari tubuhnya dan ditancapkan di atas tombak serta di bawa untuk dipersembahkan kepada raja Yazid yang bermukim di Syuriah. Oleh karenanya bagi yang ingin menziarahi tubuh Imam Husain, maka hendaknya pergi ke Karbala Irak dan bagi yang ingin menziarahi kepalanya, maka hendaknya pergi ke Suriah. Ini bukan cerita dongeng, sejarahnya sangat masyhur dan ditulis dalam kitab-kitab ahli sejarah. Tidak ada yang memungkiri, Imam Husain adalah cucu kesayangan nabi, dan berkali-kali menyampaikan kepada para sahabat untuk juga menyayanginya. Abu Hurairah bercerita, “Rasulullah SAW datang kepada kami bersama kedua cucu beliau, Hasan dan Husain. Yang pertama di bahu beliau yang satu, yang kedua di bahu beliau yang lain. Sesekali Rasulullah SAW menciumi mereka, sampai berhenti di tempat kami berada. Kemudian beliau bersabda, ‘Barang siapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain) berarti juga mencintai daku; barang siapa membenci keduanya berarti juga membenci daku.” Imam Husain adalah kekasih setiap mukmin dan mukminah dan teman dekat setiap Muslim dan Muslimah, sehingga setiap orang mukmin akan merasa sedih atas kepergiannya. Tidak sedikit rakyat Pakistan yang menangisi kematian Benazir Bhutto yang tragis ataupun mahasiswa Makassar yang tidak bosan-bosannya memperingati tragedi AMARAH tiap tahunnya, maka bagaimana mungkin kita tidak menangis atas kematian Imam Husain yang mengajari dan menjaga nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran! Seandainya kalau bukan karena jihad sucinya, niscaya Islam akan lenyap bahkan namanya pun tidak akan terdengar. "Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang." (Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib).
Menangis atas Imam Husain, Sunnah atau Bid'ah ?
Allah SWT berfirman tentang nabi Yaqub as yang menangisi kepergian anaknya, Nabi Yusuf as, "…Aduhai duka citaku terhadap Yusuf; dan kedua matanya menjadi putih (buta) karena kesedihan dan dialah yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)." (Qs. Yusuf : 85). Dari ayat ini, kita bisa bertanya, apakah tangisan Nabi Yaqub as karena terpisah dengan anaknya sampai matanya menjadi buta adalah bentuk jaza' (keluh kesah) yang dilarang ? apakah Nabi Yaqub as melakukan sesuatu yang menjemuruskan dia dalam kebinasaan sampai anak-anaknya bertanya, " Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang yang binasa ?" (Qs. Yusuf : 86). Alhasil, Al-Qur'an menceritakan bahwa ketika Yusuf dijauhkan Allah SWT dari pandangan Yaqub serta merta Yaqub menangis sampai air matanya mengering karena sangat sedihnya. Tentu saja tangisan Nabi Yaqub as bukanlah tangisan keluh kesah yang sia-sia, melainkan ungkapan kesedihan atas kebenaran yang telah dikotori, atas anaknya Yusuf yang telah di dzalimi. Hakim an-Naisaburi dalam Mustadrak Shahih Muslim dan Bukhari meriwayatkan, bahwa Rasulullah keluar menemui para sahabatnya setelah malaikat Jibril memberitahunya tentang terbunuhnya Imam Husain dan ia membawa tanah Karbala. Beliau menangis tersedu-sedu di hadapan para sahabatnya sehingga mereka menanyakan hal tersebut. Beliau memberitahu mereka, "Beberapa saat yang lalu Jibril mendatangiku dan membawa tanah Karbala , lalu ia mengatakan kepadaku bahwa di tanah itulah anakku Husain akan terbunuh." Kemudian beliau menangis lagi, dan para sahabatpun ikut menangis. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa inilah acara ma'tam (acara kesedihan dan belasungkawa untuk Imam Husain). Jika ketika mendengar kisah terbunuhnya Imam Husain lalu tidak mengucurkan air mata, maka kitapun akan dingin terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya. Karenanya wajar, hati masyarakat kita tidak tersentuh ketika mendengar berita seorang suami membakar istrinya, seseorang membunuh dengan dalih yang sepele dan sebagainya. Masyarakat kita tidak terbiasa menangis tetapi terbiasa untuk tertawa. Hati kita cenderung keras dan menganggap tangisan adalah bentuk kekalahan. Tangisan atas Imam Husain bukanlah tangisan kehinaan dan kekalahan, namun adalah protes keras atas segala bentuk kebatilan dan sponsornya di sepanjang masa. Orang-orang mukmin merasakan gelora dalam jiwanya ketika mengenang terbunuhnya Imam Husain, bahkan Mahatma Ghandi berkali-kali mengatakan semangat perjuangannya terinspirasi dari revolusi Imam Husain ra. Kullu yaumin Asyura, kullu ardin Karbala, semua hari adalah Asyura, semua tempat adalah Karbala. Hari asy-Syura termasuk hari-hari Allah, tentangnya Allah berfirman : "Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah." (Qs. 14:5). Meskipun ada usaha-usaha untuk memadamkan gelora perlawanan akan ketertindasan dan kedzaliman. Tetapi Allah Maha Perkasa, Dia tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun musuh-musuh-Nya tidak suka. Allah tetap menjaga gelora spiritual itu tetap menyala di hati-hati orang mukmin dan tidak akan pernah padam sampai hari kiamat. Semua mukminin wajib mengenang tragedi ini dan menangis atasnya, "Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?" (QS. An-Najm: 59-60)
Wednesday, December 8, 2010
CINTA ASYURA DAN KARBALA
Pada 1 Muharram setiap tahun, ummat Islam merayakan sambutan Ma'al Hijrah, bergembira atas kehadiran tahun baru dalam kalendar Islam. Sambutan itu tidak disebut dalam al-Quran atau nas Sunnah Nabi (saw) secara terus terang namun ia tetap dianggap sebagai perayaan ummat Islam.
Ironinya ummat Islam masih lebih cenderung meraikan secara berlebihan-lebihan tahun baru Masihi baru-baru ini termasuk dicemari dengan perbuatan songsang lantas mencemarkan kemuliaan Muharam.
Ironinya ummat Islam masih lebih cenderung meraikan secara berlebihan-lebihan tahun baru Masihi baru-baru ini termasuk dicemari dengan perbuatan songsang lantas mencemarkan kemuliaan Muharam.
Kemuliaan Muharram yang pada hari itu kita berselawat memuji-muji Rasulullah (saw), satu amalan yang diperintah oleh Allah (swt). Kita alunkan nasyid-nasyid seperti 'Tala'al Badru 'Alaina' bagi mengingati kembali betapa gembiranya kaum Ansar sewaktu menyambut kehadiran Rasulullah (saw) bersama kaum Muhajirin di Madinah. Hijrahnya Rasulullah (saw), menandakan tamatnya segala penindasan ke atas golongan mustadh'afin (golongan tertindas dan lemah) lantas membuka era baru dalam perkembangan Islam, darinya juga bermula sebuah negara yang berlandaskan kepemimpinan Ilahiah.
Namun bulan Muharram juga mengingatkan kita semua tentang peristiwa besar yang pernah terjadi dalam sejarah tamadun manusia selepas zaman Rasulullah (saw) iaitu pada 10 Muharram 61 Hijrah yang menyaksikan cucu kesayangan baginda, Imam Husain bin Ali (as) bersama rombongannya dibunuh dengan kejam di bumi Karbala.
Jika Ma'al Hijrah, ummat Islam bergembira, peristiwa 10 Muharram pula disaduri dengan kesedihan. Tetapi apabila disebut, kita sambut 10 Muharram dengan ingatan pada peristiwa Karbala, ia sering kali dianggap sesuatu yang asing, sesat lagi menyesatkan. Benarkah begitu?
Kerana ia selama ini disambut dengan penuh emosi oleh para pengikut mazhab Ahlul Bait tetapi tidak di sisi para pengikut mazhab Ahlus Sunnah amnya. Bagaimanapun tradisi di rantau ini yang bermazhab Ahlus Sunnah begitu rapat dengan 'Asyura sebagaimana rapatnya masyarakat sebelah sini dengan ritual seperti tahlil dan marhaban yang didatangkan dari Hadhratulmaut.
Semuanya dikaitkan dengan ingatan terhadap Ahlul Bait.
Jika Ma'al Hijrah, ummat Islam bergembira, peristiwa 10 Muharram pula disaduri dengan kesedihan. Tetapi apabila disebut, kita sambut 10 Muharram dengan ingatan pada peristiwa Karbala, ia sering kali dianggap sesuatu yang asing, sesat lagi menyesatkan. Benarkah begitu?
Kerana ia selama ini disambut dengan penuh emosi oleh para pengikut mazhab Ahlul Bait tetapi tidak di sisi para pengikut mazhab Ahlus Sunnah amnya. Bagaimanapun tradisi di rantau ini yang bermazhab Ahlus Sunnah begitu rapat dengan 'Asyura sebagaimana rapatnya masyarakat sebelah sini dengan ritual seperti tahlil dan marhaban yang didatangkan dari Hadhratulmaut.
Semuanya dikaitkan dengan ingatan terhadap Ahlul Bait.
Bergantung kepada budaya setempat, 'Asyura (versi Ahlul Bait?) disambut seperti di ibu kota Teheran, Iran; Karbala, Iraq; Lucknow, India dan Nabatiyeh, selatan Lebanon, malah tidak ketinggalan di serata tempat termasuk di Malaysia. Hari mereka berdukacita dari 1 Muharram sampailah kepada 10 Muharram dan ia berlanjutan selama 40 hari perkabungan (Arba'in).
Ya, semua itu tiada dalam al-Quran dan Hadis Nabi (saw) secara berterus terang sebagaimana sambutan Ma'al Hijrah. Tetapi peristiwa penjarahan kejam terhadap Imam Husain (as), ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya oleh tentera 'Umar bin Sa'ad di Karbala membuka lembaran sejarah kepada ummat.
Ia tidak seharusnya menjadi milik para pengikut mazhab Ahlul Bait semata-mata tetapi ia juga milik seluruh ummat yang cintakan perdamaian dan kebencian pada kezaliman. Kerana Ahlul Bait adalah warisan tinggalan Rasulullah (saw) buat pegangan seluruh ummat selepas al-Quran.
Menyambut 10 Muharram dengan mengingati Imam Husain (as) bukan bererti kita semua menjadi 'Syiah' atau 'Rafidhah'. Tetapi mengingati kesyahidannya di Karbala adalah sebahagian dari rasa cinta dan sayang pada belahan jiwa Rasulullah itu.
Sebagaimana yang diulang sebut dalam tahlil kita, ''Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan menyucikan kamu dengan sesuci-sucinya"
Ya, semua itu tiada dalam al-Quran dan Hadis Nabi (saw) secara berterus terang sebagaimana sambutan Ma'al Hijrah. Tetapi peristiwa penjarahan kejam terhadap Imam Husain (as), ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya oleh tentera 'Umar bin Sa'ad di Karbala membuka lembaran sejarah kepada ummat.
Ia tidak seharusnya menjadi milik para pengikut mazhab Ahlul Bait semata-mata tetapi ia juga milik seluruh ummat yang cintakan perdamaian dan kebencian pada kezaliman. Kerana Ahlul Bait adalah warisan tinggalan Rasulullah (saw) buat pegangan seluruh ummat selepas al-Quran.
Menyambut 10 Muharram dengan mengingati Imam Husain (as) bukan bererti kita semua menjadi 'Syiah' atau 'Rafidhah'. Tetapi mengingati kesyahidannya di Karbala adalah sebahagian dari rasa cinta dan sayang pada belahan jiwa Rasulullah itu.
Sebagaimana yang diulang sebut dalam tahlil kita, ''Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan menyucikan kamu dengan sesuci-sucinya"
(surah al-Ahzab : ayat 33).
Justeru wajarkah manusia-manusia yang disucikan oleh Allah itu dibunuh dengan kejam. Layakkah insan yang dikasihi oleh Nabi (saw) diperlakukan sebegitu rupa. Ummat apakah kami ini, ya Allah? Jadi wajarkah kita tidak mempunyai secebis rasa sedih meskipun tidak beremosi bila mengenangkan sejarah hitam itu.
Justeru wajarkah manusia-manusia yang disucikan oleh Allah itu dibunuh dengan kejam. Layakkah insan yang dikasihi oleh Nabi (saw) diperlakukan sebegitu rupa. Ummat apakah kami ini, ya Allah? Jadi wajarkah kita tidak mempunyai secebis rasa sedih meskipun tidak beremosi bila mengenangkan sejarah hitam itu.
Ketika Imam Husain (as) menyaksikan dengan matanya, 'Ali Akbar dipanah dalam keadaan tekaknya kering kehausan. Tidak cukup itu, bayi kecil, 'Ali Asghar yang merengek-rengek perlukan air tetapi panah pula yang dilayangkan ke tubuhnya.
Bagi mereka yang begitu rapat dengan sejarah itu, emosinya membuak-buak, linangan air mata tidak dapat dibendung lagi. Kadang kala kerana faktor budaya setempat, ada yang terdorong melukakan badan mereka, mungkin ingin merasai penderitaan Imam Husain (as) dan ahli keluarganya serta para sahabatnya.
Apa peliknya jika bekas Presiden Mesir, Gamal Abdul Naser mati dibunuh oleh Khalid Islamboli, ada juga orang Mesir meratap hingga membunuh diri, inikan pula cucu Nabi (saw) yang dibunuh. Jadi tidak mustahil ada yang bertindak terlalu emosi dan meluahkan segala-galanya.
Namun wajarkah mereka yang dikatakan sebagai pengamal bid'ah itu dihapuskan dan dihalalkan darah mereka dengan aksi letupan bom sebagaimana yang sering terjadi di Pakistan dan juga Iraq apabila golongan bermazhab Ahlul Bait beramai-ramai keluar menyambut 'Asyura secara terbuka selepas puluhan tahun dihalang oleh rejim Saddam Hussein.
Seharusnya ummat Islam kini tidak lagi dibebankan dengan pertelingkahan sejarah lama. Ketika ada yang marah kerana sambutan 'Asyura, sebenarnya Karbala moden sedang berlaku dan 'Asyura terus menangis.
Bumi Gaza dibedil, dijarah sejak 27 Disember lalu. Serangan darat yang telah dimulakan oleh tentera Zionis tidak mengenal kanak-kanak, bayi dan wanita. Sasarannya membabi buta; masjid, hospital dan pasar.
Tentera rejim itu tiada bezanya dengan kekejaman 'Umar bin Sa'ad atau Syimr bin Dzil Jausyan ketika di Karbala. Keadaannya juga sama, jika tiada seorang pun penduduk Kufah yang berani melawan kezaliman tentera Umayyah untuk menyelamatkan Imam Husain (as) yang sepatutnya mereka bai'ah sebagai pemimpin dan ikutan.
Begitu juga Gaza, tiada penguasa atau negara yang mampu melawan Israel. Pertubuhan Persidangan Islam (OIC) tidak mampu berbuat apa-apa meskipun Palestin adalah isu yang melibatkan sama ada Sunnah atau Syi'ah.
Kita hanya mampu berdemonstrasi, melaung-laungkan 'Jahanam Israel!','Hidup Islam!' atau 'Hancur Amerika!' dan setidak-tidaknya menghulurkan bantuan kemanusiaan. Itu semua sekadar tindakan ad-hoc untuk Palestin.
Selepas itu, masing-masing pulang ke rumah boleh bersuka ria dan bergelak ketawa di bulan Muharram ini. Tetapi 'Asyura membuatkan penderitaan Palestin terasa dekat di hati.
Ahli sejarah al-Makrizi dalam kitabnya 'al-Khuthath' sebagaimana yang dipetik dari tulisan Dr Jalaluddin Rakhmat menyebut; ''Dinasti Fatimiah di Mesir menjadikan 'Asyura sebagai hari dukacita (mengenang kematian Imam Husain di Karbala)… Ketika Bani Ayyub merebut Mesir, mereka menjadikan hari itu hari kegembiraan… Melanjutkan tradisi orang Syam yang dirintis oleh al-Hajjaj pada zaman Abdul Malik bin Marwan.''
Untuk catatan, sepanjang ratusan tahun Hijrah, mimbar masjid di zaman Umaiyyah diperintah untuk melaknat Imam Ali (as) sehinggalah ia ditamatkan oleh Khalifah 'Umar 'Abdul 'Aziz yang mengubahnya kepada kalimah dari ayat Quran,''Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu kepada keadilan dan ihsan.''
Jalaluddin dalam bukunya, 'Meraih Cinta Ilahi...Pencerahan Sufistik' mengungkapkan setiap kali 'Asyura, pengikut Imam 'Ali (as) di Karbala merekonstruksi peristiwa itu dan merintih penuh nestapa.
Mereka berteriak, 'Setiap Hari Adalah Asyura Dan Setiap Bumi Adalah Karbala'. Kita baca ungkapan itu sebagai 'Setiap hari adalah perjuangan dan di mana saja kita berpijak itulah bumi perjuangan'...Selawat!
Lantas 'Asyura bukan sekadar menjadi lambang penentangan kezaliman pemerintah dalam Dinasti Umaiyyah. Memandangkan Khilafah ketika itu mendokong aliran mazhab Ahlus Sunnah, maka ada pihak yang menganggap sambutan 'Asyura adalah lambang penentangan kepada mazhab Ahlus Sunnah.
Namun sebenarnya 'Asyura adalah sumbu penolakan kepada sebarang kekejaman dan penindasan ke atas golongan mustadh'afin. Gelombang semangat 'Asyura jugalah satu ketika dulu menumbangkan Syohansyah Reza Pahlawi atau Shah Iran oleh pendukung garisan Imam Khomeini (qs), meskipun 'raja segala raja' itu adalah seorang 'Syiah'.
Sambutan 'Asyura tahun demi tahun itulah yang menyalakan semangat penentangan ke atas tentera Israel oleh Hizbullah, pimpinan Hujjatul Islam Sayyid Hasan Nasrullah yang mengisytiharkan kemenangan dalam peperangan selama 33 hari dengan rejim itu pada 2006 dan Hizbullah secara jelas mengiktiraf kepimpinan 'Wilayatul Faqih' di Iran.
Dengan semangat menentang kezaliman itulah juga Presiden George Bush dimalukan oleh seorang wartawan, Muntazhar az-Zaidi, seorang yang bermazhab Ahlul Bait dengan lontaran jamrah 'kasut but' bersaiz '10' itu.
Oleh itu, apabila membaca sejarah Karbala, ia sebenarnya terlalu dekat dengan apa yang telah berlaku sekarang dan mengajak kita berfikir bagaimana harus dilakukan untuk merubah nasib ummat. 'Asyura adalah menyatakan rasa sedih dan meluahkan kecintaan mendalam kepada Imam Husain (as), ahli keluarganya dan para sahabatnya sebagaimana Nabi (saw) pernah menyatakan rasa sedemikian rupa pada cucunya itu.
Bagi mereka yang begitu rapat dengan sejarah itu, emosinya membuak-buak, linangan air mata tidak dapat dibendung lagi. Kadang kala kerana faktor budaya setempat, ada yang terdorong melukakan badan mereka, mungkin ingin merasai penderitaan Imam Husain (as) dan ahli keluarganya serta para sahabatnya.
Apa peliknya jika bekas Presiden Mesir, Gamal Abdul Naser mati dibunuh oleh Khalid Islamboli, ada juga orang Mesir meratap hingga membunuh diri, inikan pula cucu Nabi (saw) yang dibunuh. Jadi tidak mustahil ada yang bertindak terlalu emosi dan meluahkan segala-galanya.
Namun wajarkah mereka yang dikatakan sebagai pengamal bid'ah itu dihapuskan dan dihalalkan darah mereka dengan aksi letupan bom sebagaimana yang sering terjadi di Pakistan dan juga Iraq apabila golongan bermazhab Ahlul Bait beramai-ramai keluar menyambut 'Asyura secara terbuka selepas puluhan tahun dihalang oleh rejim Saddam Hussein.
Seharusnya ummat Islam kini tidak lagi dibebankan dengan pertelingkahan sejarah lama. Ketika ada yang marah kerana sambutan 'Asyura, sebenarnya Karbala moden sedang berlaku dan 'Asyura terus menangis.
Bumi Gaza dibedil, dijarah sejak 27 Disember lalu. Serangan darat yang telah dimulakan oleh tentera Zionis tidak mengenal kanak-kanak, bayi dan wanita. Sasarannya membabi buta; masjid, hospital dan pasar.
Tentera rejim itu tiada bezanya dengan kekejaman 'Umar bin Sa'ad atau Syimr bin Dzil Jausyan ketika di Karbala. Keadaannya juga sama, jika tiada seorang pun penduduk Kufah yang berani melawan kezaliman tentera Umayyah untuk menyelamatkan Imam Husain (as) yang sepatutnya mereka bai'ah sebagai pemimpin dan ikutan.
Begitu juga Gaza, tiada penguasa atau negara yang mampu melawan Israel. Pertubuhan Persidangan Islam (OIC) tidak mampu berbuat apa-apa meskipun Palestin adalah isu yang melibatkan sama ada Sunnah atau Syi'ah.
Kita hanya mampu berdemonstrasi, melaung-laungkan 'Jahanam Israel!','Hidup Islam!' atau 'Hancur Amerika!' dan setidak-tidaknya menghulurkan bantuan kemanusiaan. Itu semua sekadar tindakan ad-hoc untuk Palestin.
Selepas itu, masing-masing pulang ke rumah boleh bersuka ria dan bergelak ketawa di bulan Muharram ini. Tetapi 'Asyura membuatkan penderitaan Palestin terasa dekat di hati.
Ahli sejarah al-Makrizi dalam kitabnya 'al-Khuthath' sebagaimana yang dipetik dari tulisan Dr Jalaluddin Rakhmat menyebut; ''Dinasti Fatimiah di Mesir menjadikan 'Asyura sebagai hari dukacita (mengenang kematian Imam Husain di Karbala)… Ketika Bani Ayyub merebut Mesir, mereka menjadikan hari itu hari kegembiraan… Melanjutkan tradisi orang Syam yang dirintis oleh al-Hajjaj pada zaman Abdul Malik bin Marwan.''
Untuk catatan, sepanjang ratusan tahun Hijrah, mimbar masjid di zaman Umaiyyah diperintah untuk melaknat Imam Ali (as) sehinggalah ia ditamatkan oleh Khalifah 'Umar 'Abdul 'Aziz yang mengubahnya kepada kalimah dari ayat Quran,''Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu kepada keadilan dan ihsan.''
Jalaluddin dalam bukunya, 'Meraih Cinta Ilahi...Pencerahan Sufistik' mengungkapkan setiap kali 'Asyura, pengikut Imam 'Ali (as) di Karbala merekonstruksi peristiwa itu dan merintih penuh nestapa.
Mereka berteriak, 'Setiap Hari Adalah Asyura Dan Setiap Bumi Adalah Karbala'. Kita baca ungkapan itu sebagai 'Setiap hari adalah perjuangan dan di mana saja kita berpijak itulah bumi perjuangan'...Selawat!
Lantas 'Asyura bukan sekadar menjadi lambang penentangan kezaliman pemerintah dalam Dinasti Umaiyyah. Memandangkan Khilafah ketika itu mendokong aliran mazhab Ahlus Sunnah, maka ada pihak yang menganggap sambutan 'Asyura adalah lambang penentangan kepada mazhab Ahlus Sunnah.
Namun sebenarnya 'Asyura adalah sumbu penolakan kepada sebarang kekejaman dan penindasan ke atas golongan mustadh'afin. Gelombang semangat 'Asyura jugalah satu ketika dulu menumbangkan Syohansyah Reza Pahlawi atau Shah Iran oleh pendukung garisan Imam Khomeini (qs), meskipun 'raja segala raja' itu adalah seorang 'Syiah'.
Sambutan 'Asyura tahun demi tahun itulah yang menyalakan semangat penentangan ke atas tentera Israel oleh Hizbullah, pimpinan Hujjatul Islam Sayyid Hasan Nasrullah yang mengisytiharkan kemenangan dalam peperangan selama 33 hari dengan rejim itu pada 2006 dan Hizbullah secara jelas mengiktiraf kepimpinan 'Wilayatul Faqih' di Iran.
Dengan semangat menentang kezaliman itulah juga Presiden George Bush dimalukan oleh seorang wartawan, Muntazhar az-Zaidi, seorang yang bermazhab Ahlul Bait dengan lontaran jamrah 'kasut but' bersaiz '10' itu.
Oleh itu, apabila membaca sejarah Karbala, ia sebenarnya terlalu dekat dengan apa yang telah berlaku sekarang dan mengajak kita berfikir bagaimana harus dilakukan untuk merubah nasib ummat. 'Asyura adalah menyatakan rasa sedih dan meluahkan kecintaan mendalam kepada Imam Husain (as), ahli keluarganya dan para sahabatnya sebagaimana Nabi (saw) pernah menyatakan rasa sedemikian rupa pada cucunya itu.
Friday, December 3, 2010
Apa perlunya kita mengingati peristiwa Karbala?
Why Commemorate the Massacre (in Karbala)?
In The Name Of Allah, The Most Compassionate, The Merciful.
O Allah! Send your blessings to the head of your Messengers and the Last of your Prophets Muhammad (S.A.W.), and his pure and cleansed progeny.
Introduction
The commemoration of Imam Hussain's (A.S.) martyrdom has been observed by the followers of Ahlul Bayt (members of the House of the Prophet (S.A.W.)) for centuries; yet many Muslims resent it, thinking that it increases the division of the Muslims. To my understanding this argument is unfounded for the following reasons:- Imam Hussain (A.S.) and his opponent Yazeed are on the opposite ends of the Heavenly Scale. There is no Muslim School that doubts the purity and qualification of the Imam (A.S.). Righteous Muslims also know that Imam Hussain isa dear grandson of the Prophet Muhammad (S.A.W.), and that he is a leader of the youth of the paradise. On the other hand, Yazeed is un-acceptable to any Muslim, and every Muslim condemns him, and will continue to do so, for his transgression and for the crimes he commited againts the Ahl al Bayt. With such a clear distinction there should be no confusion among the Muslims on account of the commemoration of this great Imam. No Muslim party should be angered by hearing the truth about the great Imam and his opponent Yazeed!
- Imam Hussain (A.S.) and the rest of the Ahl al Bayt did not receive in their lives the fairness and respect due to them on the part of the Muslims, while the rest of the Companions of the Prophet ( saw ) received of that as much as they deserved ( or more ). The members of the House of the Messenger were denied even the right to live or feel safe. The Muslims, should therefore try to correct the mistake of history by un-covering the virtues of these distinguised people.
- To keep the names of these people alive is in the interest of the Muslims. The Messenger of God, Mohammad ( saw ), said when he was returning from his valedictory pilgrimage, while at Ghadir Khum:
I am about to be called ( by the Lord to depart from this World) and respond (to His call). I am leaving for You the Two Valuables (one of them is bigger than the other) : The Book of God and the members of my House. Beware how you shall treat the two after me, because they will not part with each other untill they join me on the Day of Judgement!
- Mustadrak of al Hakim, vol 3 p 109
- Sahih of Tirmizi, vol 2 p 307
- Musnad of Ahmed Hanbal, vol 3 p 14, 217
- Khasais of al Nasai, p 30
- Sahih of Muslim, vol 4 p 1286 hadith 5920
- ... and many many more
The History of this great Martyr is a school for the seekers of the truth. Every Muslim can learn a great deal from the supreme sacrifice and the courage of the Imam. The Muslims are still living under similar conditions now as before. Corruption is still prevalent in our society, and tyrants, like Yazeed, are no rarity in Muslims and non-Muslim countries, but we don't have men like Imam Hussain. Fortunately, this commemoration is providing the Muslim World with some of his excellent students.
Ref:
Imam Hussain - Leader of Martyrs
The Late Muhammad Jawad Chirri
Contributed by Br. Ali Abbas
abbas@seas.gwu.edu
from al-islam.org
Tuesday, November 30, 2010
SELAMAT MENYAMBUT EID MUBAHALAH
فَمَنْ حَاجَّكَ فيهِ مِنْ بَعْدِ ما جاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعالَوْا نَدْعُ أَبْناءَنا وَ أَبْناءَكُمْ وَ نِساءَنا وَ نِساءَكُمْ وَ أَنْفُسَنا وَ أَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكاذِبينَ
Siapa yang membantahmu (tentang kisah Isa) sesudah datang ilmu (yang sampai kepadamu), maka katakanlah (kepada mereka):" Marilah kita memanggil anak- anak kami dan anak- anak kamu, istri- istri kami dan istri- istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah, kemudian kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang- orang yang dusta.(Ali Imran; 61 )
Siapa yang membantahmu (tentang kisah Isa) sesudah datang ilmu (yang sampai kepadamu), maka katakanlah (kepada mereka):" Marilah kita memanggil anak- anak kami dan anak- anak kamu, istri- istri kami dan istri- istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah, kemudian kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang- orang yang dusta.(Ali Imran; 61 )
Tuesday, November 23, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)